semakin tinggi, semakin menjauh menuju lebatnya pepohonan, di setapak yang menanjak ini, masih terus berjalan #pendakian
“Jadi kah nih?”
“ jangan sampe cuma berhenti di niat”
Kata-kata itu seolah menjadi tantangan bagi saya untuk membuktikan kalau
saya masih kuat mendaki. la Idar, begitu beliau biasa kami panggil.
Seorang penggiat alam senior -ini belakangan- begitu
girang saat saya menanyakan padanya “Kapan kita naik dar?” tanpa Basa-basi dia manjawab '' sekarang di padang kuku'' Dengan semangatnya, beliau menyiapkan semua keperluan pendakian. Hal itulah yang
membuat saya dan kak Ijalo menjadi (tidak enak) jika tiba-tiba
urung untuk mendaki. Dia juga mengajak lagi seorang teman si vie*nama cowok*. maka terkumpullah kami yang berjumlah 4 orang.
Alkisah saya punya seorang teman di Desa kapontori, desa yang terletak di bawah bukit Padang kuku, sebut saja namanya si bolang*pribumi*,,, yap,, itu julukannya dulu semasa dia masih aktif di organisasi kampus mapala tekhnik (MAPATEK) Unidayan. Di masa kejayaannya dia adalah sosok yang tangguh dalam setiap pendakian.
Sehabis magrib, sampailah kami di rumah si bolang, di sana kami bertemu dengan orang tua si bolang, bapak si bolang menitipkan beberapa makanan kepada kami. Setelah sedikit berbasa-basi dan sampir pengechekan akhir peralatan
mendaki, kami pun berpamit untuk segera memulai pendakian.
Perjalanan kami di mulai pada jam 07.15 WIB melalui desa Kapontori, kami pun berangkat. Waktu itu kami tidak membawa bekal yang banyak dan peralatan kami cuma seadanya dari la idar. saya hanya memakai sandal jepit yang sudah agak usang,
kaki terseksi dunia akhirat
Karena tim terdiri dari pendaki-pendaki senior. Senior dari
segi usia, namun junior dalam urusan mendaki, hehehe. 20 menit pertama melewati perkebunan warga, belum terasa efek apa-apa yang berarti. namun di tambah 5 menit kedian = 25 menit perjalanan, di kegelapan malam tiba-tiba si bolang terhenti langkahnya, agak sesak nafas,,,
" kita istirahat dulu'' ucap si bolang
Padahal sebetulnya kami belum merasa capek atau lelah sama sekali. okey,#kesempatan# mumpung lagi istirahat saya manfaatkan ini untuk mengambil handphone sms teman atau pacar,,hehe,!!!yang lain curhat.
ketika mulai melanjutkan perjalanan, disinilah Bolang mulai merasakan kekurangan oksigen Gejala yang timbul biasanya memang pusing, mual, sesak nafas, dan badan lemas. akhirnya kami kembali istirahat. tak terlalu lama beristirahat kami lanjut berjalan, di tengah perjalanan si Bolang muntah-muntah#menjijikan# apa yang terjadi??
"kalian lanjut saja jalan, saya istirahat saja di sini dulu nanti saya menyusul" kata si bolang
"kenapa sob?" tanyaku
"sudah lama saya tidak mendaki, badanku sudah terlalu gemuk sob, " jawab si bolang
wah kayaknya bakalan panjang dan nguras energi kalau si bolang sampai pingsan muncul ide dalam benakku , "dari pada saya gendong si bolang, mending saya angkut barang bawaannya",,,
Dengan sangat terpaksa, penyesalan mendalam, rasa kasian saya mengambil inisiatif untuk mengakatkan carrier, dan barang-banrang yang di angkut si bolang.
'' ayoo,, Bolang, mari barang-barangmu saya saja yang pegang"
Pelan tapi pasti, dengan tenaga seadanya dan semangat yang semakin memudar kamipun
melanjutkan perjalanan. Kami disuguhi tanjakan-tanjakan yang curam serta
jalan yang masih tetap berbatu tajam. Dengan rintangan yang kami hadapi di jalan, akhirnya pada jam 10 di malam minggu kelabu, kami sampai di puncakgunung padangkuku,
#sampailah di puncak, sebuah tanah tertinggi, menunggu esok terbitnya surya dari ufuknya#
Pesan moral = sebelum memulai pendakian yang perlu di Perhatikan adalah "Perutmu", OLAH RAGALAH Sebelum Terlambat
ohya, sebelum saya kabur, saya mau bilang ini komennya saya tutup. jadi kalo mau protes langsung ke ASH***** *Andra Sense Humor* aja yak. woceh doceh?!
~ salam ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar