Siotapina adalah nama sebuah bukit yang terletak di sebelah timur pulau buton, dengan ketinggian sekitar 493m di atas permukaan laut, yang kalau di lihat di peta, masuk dalam kawasan hutan negara, tepatnya hutan produktif terbatas, secara administratif masih dalam wilayah pemerintahan kabupaten buton, sulawesi tenggara. siotapina berasal dari bahasa wolio yang terdiri dari 2 uku kata;
* Sio ; Sembilan,
*Tapi ; Ketinggian, Anak tangga, atau Puncak.
Dan kalau di sambung dua kata tadi yang secara harafiahnya artinya sembilan tingkat, sembilan kali mendaki sebelum mencapai puncak.
Menurut sejarah, siotapina berkaitan erat dengan cerita salah seorang sultan buton yang bernama '' sultan Nimayatudin muhammad saidi'' (Dalam bahasa wolio, opu ; Tuan/raja, dan yikoo : hutan ) dan hingga kini tinggal di desa wasuamba (sukanaeo), melaksanakan ziarah ke makam sang sultan di atas puncak bukit siotapina yang di laksanakan setahunsekali.
Akses ke siotapina
Bagi yang penasaran dan ingin menyaksikan kegiatan ritual ziarah di bukit siotapina, tidak terlalu sulit. biasanya setiap rencana pelaksanan ziarah sudah di musyawarahkan terlebih dahulu setelah di akhir acara ritual tiap tahun itu, rata-rata di antara bulan agustus (Setelah peringatan acara HUT RI), tetapi ada juga tahun-tahun sebelumnya di laksanakan setelah lebaran Idul fitri juga. untuk merngikuti ziarahnya, pengunjung bisa mengikuti beberapa jalur (lawa/pintu), bisa lewat rombongan syara di esa wasuamba lewat (lawana kamaru), bisa juga lewat rombongan syara desa labuandiri (lawana wolowa), dan juga bersama rombongan syara lawele (lawana lawele). ( informasi terakhir di lawana lawele untukberapa tahun ini tidak aktif, entah karena apa).
Untuk menuju daerah wasuamba dapat di tempuh lewat jalur darat, mengingat kondisi jalan yang rusak ada baiknya lewat jalur pasar wajo menuju lasalimu,kalau naik kendaraan umum, ambil bus yang menuju ke tira-tira, berhenti di dusun rokiro, wasuamba, atau tira-tira. Sedang kalau desa labuandiri, ambil Bus yang jurusan SP3, turun di desa labuandiri. atau kalau tertarik ikut dalam rombongan la gure te la panjulu.
Berlangsungnya ritual
Kegiatan ritual yang di laksanakan dari masing-masing lawa/pintu di laksanakan secara bergelombang, yaitu di mulai dari rombongan pertama yang di pimpin oleh Tontau (pembuka/perintis), yaitu jabatan seseorang dalam adat yang bertugas memastikan jalan yang akan di lewati oleh rombongan lain aman, dan mudah di lalui, rmbongan ini yang duluan tiba di puncak siotapina (Di puncak masyarakat adat setempat menyebut dengan nama ''keraton atau benteng'' di mana makam sultan berada), setelah tiba di atas tontau juga bertanggung jawab mempersiapkan perlatan utama yaitu seperangkat alat musik tradisional, seperti gendang,anak gong, gong dll.
Rombongan kedua yang dinamakan rombongan syara akan berangkat setelah sehari rombongan tontau telah pergi, rombongan ini di pimpin bonto atau kalau di kadie(suku) lain buton di sebut parabela atau ketua adat, dan rombongan terakhir di namakan pau yang di pimpin pangalasa (pangalasa artinya juru bicara / perwakilan) kalau di jawa biasanya di sebut sebagai juru kunci. rombongan tersebut juga berangkat setelah dua hari dari rombongan syara pergi.
Setibanya di atas, upacara ritual belum di mulai sampai ada tanda/isyarat dari leluhur, yaitu melalui salah seorang rombongan pau akan mengalami kerasukan dari roh leluhur yang pernah hidup di masa lampau dan memberikan informasi kapan di mulainya upacara.
Garis besarnya, upacara ritual sebenarnya hanya tiga hari, hari petama di mulai dengan kegiatan ''pesamburea'' atau penyapuan/pembersihan, di ikuti dengan seluruh pengunjung akan membersihkan semua tempat dari makam, Rumah (bantea) tempat istirahat bagi kaum perempuan, Batu Banawa (batu besar yang di tengahnya ada lubang besar) yang di apit oleh 4 pohon beringin besar, juga beberapa mata air, dan semua pengunjung di wajibkan menggunakan pakaian berwarna hijau,
Hari ke dua, di namakan' sangke'' yaitu hari di mana semua pengunjung mengenakan pakaian warna putih, emapat gadis dengan berbaju dan seendang putih mnari di atas batu banawa, dan setelah itu di pimpin oleh seorang tontau (sukanaeo-matanaeo), dengan media ayam jantan putih yang memang di pilih dari jenisnya, di lempar ke tengah batu banawa, setiap darigerak ayam tersebut, bagidua orang tontau tersebut punya makna dan berkaitan dengan kejadian yang akan terjadi atas komunitas adatnya masing-masing.
Hari ke tiga di namakan ''pau'' yaitu hari di mana semua pengunjung mengenakan pakaian berwarna kuning, hari ini adalah hari yang di larang pengambilan gambar bagi pengunjung dan semua tokoh adat yang berkumpul di depan mimbar yang di buat dari anyaman bambu, dengan seorang perempuan yang selalu di apit dengan 2 dayang - dayang yang memegng payung besar. akan ada pidato sejenak yang di lakukan oleh seorang bonto dengan 3 bahasa(bahasa indonesia, bahasa wolio, dan bahasa kamaru). setelah pidato, acara di akhiri dengan semua pengunjung saling bersalaman dan membaca Doa bersama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar